Pumpunan- Selama ini, banyak yang meyakini bahwa hilangnya babi di jazirah Arab semata-mata karena larangan agama. Namun, penelitian arkeologis dan antropologis mengungkap fakta menarik: babi dulunya adalah hewan ternak yang sangat populer di Timur Tengah. Bukti menunjukkan bahwa antara tahun 5.000 hingga 2.000 SM, masyarakat setempat memelihara babi secara intensif sebagai sumber daging utama.
Perubahan drastis baru terjadi seki1.000 SM. Para ahli mengungkapkan bahwa ada faktor ekologi dan ekonomi yang kuat di balik "terusirnya" babi dari wilayah tersebut.
1. Masalah Efisiensi Sumber Daya
Antropolog Marvin Harris, dalam bukunya Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir, menjelaskan bahwa babi adalah hewan yang sangat "boros". Di tengah iklim Timur Tengah yang kering kerontang, seekor babi membutuhkan sekitar 6.000 liter air untuk tumbuh hingga siap potong. Jika sebuah peternakan memiliki 100 ekor, maka dibutuhkan 600.000 liter air—sebuah angka yang sangat tidak masuk akal untuk wilayah gurun.
Selain itu, babi tidak bisa memakan rumput seperti sapi atau kambing. Mereka mengonsumsi biji-bijian, kacang-kacangan, dan buah-buahan—makanan yang sama dengan yang dikonsumsi manusia. Di masa sulit, manusia lebih memilih memakan gandum tersebut sendiri daripada memberikannya kepada hewan yang sangat menyita sumber daya.
2. Ketidakcocokan dengan Budaya Nomaden
Masyarakat Arab kuno memiliki budaya hidup berpindah-pindah (nomaden). Babi adalah hewan yang sulit digiring untuk perjalanan jauh di padang pasir karena mereka tidak memiliki kelenjar keringat dan mudah mengalami heatstroke jika dipaksa berjalan di bawah terik matahari. Berbeda dengan unta atau kambing, babi membutuhkan tempat berteduh dan air yang melimpah untuk tetap sejuk.
3. Kehadiran Ayam sebagai "Pesaing" Tangguh
Sejarawan Richard W. Redding menambahkan sudut pandang lain: munculnya ayam. Sekitar milenium pertama SM, ayam mulai diperkenalkan di Timur Tengah dan langsung menjadi primadona.
Ayam jauh lebih efisien dibandingkan babi. Untuk menghasilkan 1 kg daging, ayam hanya membutuhkan sekitar 3.500 liter air. Selain itu, ayam menghasilkan telur secara rutin, lebih mudah dibawa saat berpindah tempat, dan ukurannya yang kecil membuat dagingnya bisa habis dikonsumsi dalam sekali makan oleh satu keluarga tanpa memerlukan teknologi pengawetan yang rumit.
