-->

Feature

Iklan

Sejarah AI: Siapa yang Menciptakan, Mengapa AI Dibuat, dan Mengapa Dunia Berlomba Mengembangkannya?

Kamis, 01 Oktober 2026, 6:07 PM WIB Last Updated 2026-10-01T11:07:35Z


Sejarah AI (Artificial Intelligence) ternyata jauh lebih panjang daripada kemunculan ChatGPT, Gemini, atau berbagai aplikasi AI generatif yang digunakan saat ini. Gagasan untuk membuat mesin yang mampu berpikir, belajar, memecahkan masalah, dan meniru kemampuan manusia telah berkembang selama puluhan tahun.

Jika saat ini AI mampu membuat tulisan, gambar, video, menerjemahkan bahasa hingga membantu manusia melakukan pekerjaan kompleks, semuanya merupakan hasil dari perjalanan panjang ilmu komputer, matematika, logika, dan ilmu saraf.

Lantas, siapa sebenarnya pencipta AI? Mengapa AI diciptakan? Kapan kecerdasan buatan pertama kali muncul? Dan mengapa perusahaan serta negara-negara di dunia kini berlomba mengembangkan AI?

Sejarah AI Bermula dari Pertanyaan: Bisakah Mesin Berpikir?

Tidak ada satu orang yang dapat disebut sebagai "pencipta AI" secara keseluruhan. Kecerdasan buatan berkembang dari kontribusi banyak ilmuwan dalam bidang matematika, komputer, logika, ilmu saraf, dan filsafat.

Salah satu tokoh paling penting sebelum istilah AI dikenal luas adalah Alan Turing, matematikawan Inggris yang pada 1950 menerbitkan makalah berjudul Computing Machinery and Intelligence di jurnal Mind.

Dalam makalah tersebut, Turing mengajukan pertanyaan terkenal: "Can machines think?" atau "Bisakah mesin berpikir?"

Alih-alih mencoba memberikan definisi sederhana tentang "berpikir", Turing menawarkan pendekatan yang kemudian dikenal melalui Turing Test. Gagasannya membantu membentuk perdebatan ilmiah mengenai apakah sebuah mesin dapat menunjukkan perilaku yang menyerupai kecerdasan manusia.

Pemikiran Turing menjadi salah satu fondasi penting dalam perkembangan penelitian mengenai mesin cerdas.

1950-an: Ketika Gagasan AI Mulai Menjadi Bidang Ilmu

Perkembangan komputer setelah Perang Dunia II memberikan peluang baru. Para ilmuwan mulai membayangkan komputer bukan hanya sebagai mesin penghitung, tetapi juga sebagai perangkat yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan yang sebelumnya membutuhkan kemampuan manusia.

Pada 1943, Warren S. McCulloch dan Walter Pitts menerbitkan penelitian mengenai aktivitas saraf yang menjadi salah satu dasar gagasan neural network atau jaringan saraf. Gagasan tersebut kemudian menjadi bagian penting dari perkembangan AI modern.

Kemudian, pada 1950, Alan Turing mempublikasikan penelitiannya mengenai mesin dan kecerdasan.

Namun, sejarah AI sebagai bidang penelitian yang memiliki nama dan agenda tersendiri biasanya dikaitkan dengan sebuah peristiwa penting pada 1956.

Siapa Pencipta AI? Nama John McCarthy Sangat Penting

Jika pertanyaannya adalah siapa yang menciptakan istilah Artificial Intelligence, nama John McCarthy menjadi tokoh utama.

McCarthy adalah ilmuwan komputer dan matematikawan yang kemudian menjadi profesor di Dartmouth College.

Pada 31 Agustus 1955, John McCarthy bersama Marvin Minsky, Nathaniel Rochester, dan Claude Shannon mengajukan proposal untuk mengadakan penelitian mengenai kecerdasan buatan di Dartmouth College.

Proposal tersebut kemudian menjadi dasar penyelenggaraan Dartmouth Summer Research Project on Artificial Intelligence pada musim panas 1956.

Dartmouth sendiri menyebut konferensi tersebut sebagai salah satu peristiwa yang menandai kelahiran AI sebagai bidang penelitian. John McCarthy dikenal sebagai orang yang mencetuskan istilah "artificial intelligence" dalam proposal tersebut.

Jadi, jika ditanya "siapa pencipta AI?", jawabannya tidak sesederhana menyebut satu nama.

Alan Turing berperan besar dalam meletakkan dasar pemikiran mengenai mesin yang dapat menunjukkan kecerdasan, sementara John McCarthy berperan penting dalam memberi nama dan membentuk AI sebagai bidang penelitian. Bersama Minsky, Rochester, Shannon dan banyak ilmuwan lainnya, mereka menjadi bagian dari fondasi awal AI.

Mengapa AI Diciptakan?

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa manusia menciptakan AI?

Jawabannya berkaitan dengan keinginan untuk memahami kecerdasan manusia sekaligus membuat mesin yang mampu melakukan sebagian tugas yang membutuhkan kemampuan berpikir.

Proposal Dartmouth 1955 secara eksplisit membayangkan penelitian untuk membuat mesin yang dapat menggunakan bahasa, membentuk konsep dan abstraksi, menyelesaikan persoalan yang sebelumnya hanya dapat dilakukan manusia, serta meningkatkan kemampuannya sendiri.

Dengan kata lain, tujuan awal AI bukan sekadar membuat chatbot.

Para ilmuwan ingin menjawab pertanyaan yang jauh lebih mendasar:

Apakah proses berpikir dan belajar manusia dapat dijelaskan secara sistematis sehingga dapat disimulasikan oleh mesin?

Pertanyaan tersebut kemudian berkembang menjadi berbagai cabang penelitian AI.

AI Awalnya Tidak Langsung Seperti ChatGPT

Perkembangan AI berlangsung melalui beberapa fase.

Pada masa awal, penelitian banyak menggunakan pendekatan berbasis aturan dan logika. Komputer diberi aturan tertentu untuk menyelesaikan masalah.

Kemudian muncul berbagai sistem yang mencoba meniru kemampuan manusia dalam menyelesaikan persoalan, memahami bahasa, bermain permainan, dan mengambil keputusan.

Perkembangan tersebut tidak selalu berjalan mulus. AI beberapa kali mengalami periode ketika harapan terhadap kemampuan teknologi terlalu tinggi dibandingkan kemampuan komputer dan metode yang tersedia. Periode penurunan minat dan pendanaan tersebut dikenal sebagai AI winter.

Namun penelitian tidak berhenti.

Kemajuan perangkat keras, ketersediaan data dalam jumlah besar, algoritma yang semakin baik, dan kemampuan komputasi yang meningkat kemudian mendorong perkembangan machine learning dan deep learning.

Dari sinilah AI modern berkembang semakin cepat.

Dari Machine Learning hingga Generative AI

AI modern tidak hanya bekerja berdasarkan aturan yang ditulis satu per satu oleh manusia.

Dalam machine learning, sistem dapat dilatih menggunakan data untuk menemukan pola dan menghasilkan prediksi atau keputusan.

Perkembangan neural network kemudian melahirkan deep learning, yang memungkinkan sistem memproses data dalam skala jauh lebih besar.

Salah satu perkembangan besar berikutnya adalah large language model (LLM).

Model bahasa berskala besar memungkinkan komputer memahami dan menghasilkan bahasa manusia dalam berbagai konteks.

Perkembangan tersebut akhirnya membawa AI generatif ke masyarakat luas.

IBM mencatat bahwa GPT-1 diperkenalkan pada 2018, kemudian GPT-3 pada 2020 menjadi tonggak penting dalam perkembangan model bahasa berskala besar. Peluncuran ChatGPT pada 2022 kemudian membuat AI generatif dikenal jauh lebih luas oleh masyarakat umum.

Mengapa Orang-Orang Sekarang Berlomba Membuat AI?

Jika AI sudah diteliti sejak 1950-an, mengapa pada era sekarang perusahaan dan negara seperti berlomba-lomba mengembangkan teknologi tersebut?

Ada beberapa alasan.

1. AI Memiliki Nilai Ekonomi Besar

AI tidak lagi hanya menjadi proyek penelitian di universitas.

Teknologi ini digunakan dalam berbagai aktivitas bisnis, mulai dari layanan pelanggan, pemasaran, pemrograman, analisis data, manufaktur, kesehatan hingga penelitian.

Laporan Stanford AI Index 2026 menunjukkan bahwa investasi korporasi global dalam AI meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2025. Investasi pada generative AI bahkan tumbuh lebih dari 200 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa AI telah menjadi bagian penting dari ekonomi teknologi global.

2. AI Dapat Meningkatkan Produktivitas

Salah satu alasan perusahaan tertarik pada AI adalah kemampuannya membantu manusia menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat.

AI dapat membantu membuat dokumen, menganalisis data, menulis kode, mencari informasi, membuat materi pemasaran, memproses gambar dan melakukan berbagai pekerjaan rutin.

Artinya, perusahaan melihat AI bukan hanya sebagai teknologi baru, tetapi juga sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi.

3. Siapa yang Menguasai AI Bisa Memiliki Keunggulan Teknologi

Persaingan AI bukan hanya terjadi antarperusahaan.

Negara juga semakin memperhatikan kemampuan AI karena teknologi ini berkaitan dengan ekonomi, penelitian, industri, keamanan, pendidikan dan infrastruktur.

Stanford AI Index 2026 mencatat bahwa AI semakin menjadi bagian dari strategi nasional berbagai negara, sementara investasi pemerintah dan pembangunan kemampuan komputasi AI juga meningkat.

Karena itu, AI telah berkembang menjadi salah satu bidang strategis dalam persaingan teknologi global.

4. Perusahaan Ingin Menjadi Pemimpin Pasar

Ada alasan bisnis yang sederhana.

Jika AI mengubah cara orang mencari informasi, bekerja, berbelanja, membuat konten, menggunakan perangkat lunak dan berkomunikasi, perusahaan yang memiliki teknologi AI yang kuat berpotensi memiliki posisi penting dalam pasar tersebut.

Itulah sebabnya perusahaan teknologi menginvestasikan dana besar untuk mengembangkan model AI, pusat data, chip, perangkat lunak dan berbagai layanan berbasis AI.

Mengapa AI Membutuhkan Banyak Uang?

Membuat AI canggih tidak cukup hanya dengan memiliki programmer.

Model AI modern membutuhkan data, chip, pusat data, listrik, jaringan, peneliti, insinyur, dan infrastruktur komputasi dalam jumlah besar.

Stanford AI Index 2026 mencatat bahwa pendapatan perusahaan AI terdepan tumbuh sangat cepat, tetapi biaya komputasi dan belanja infrastruktur juga meningkat tajam.

Karena itu, perlombaan AI pada dasarnya bukan hanya perlombaan membuat software.

Ini juga merupakan perlombaan membangun infrastruktur komputasi.

AI Sekarang Sudah Menjadi Perlombaan Global

Perkembangan AI saat ini melibatkan perusahaan teknologi, universitas, startup, investor, dan pemerintah dari berbagai negara.

Stanford AI Index 2026 melaporkan bahwa industri menghasilkan lebih dari 90 persen model AI frontier yang tercatat pada 2025. Laporan yang sama juga menunjukkan bahwa investasi dan adopsi AI terus meningkat secara global.

Hal tersebut menunjukkan perubahan besar.

Dulu, AI merupakan topik penelitian yang hanya dipahami kalangan ilmuwan komputer tertentu.

Sekarang, AI telah menjadi teknologi yang memengaruhi bisnis, pendidikan, pekerjaan, penelitian dan kehidupan sehari-hari.

Apakah Perlombaan Membuat AI Akan Berhenti?

Kemungkinan besar, perkembangan AI tidak akan berhenti hanya karena satu perusahaan berhasil membuat model yang sangat canggih.

Setiap kemajuan menciptakan tantangan baru.

Ketika model bahasa menjadi lebih baik, peneliti mulai mengembangkan AI yang mampu menggunakan berbagai jenis data. Ketika AI semakin mampu menghasilkan teks dan gambar, penelitian bergeser ke video, suara, robotika, agen AI dan sistem yang dapat menyelesaikan rangkaian tugas.

Namun perlombaan tersebut juga membawa persoalan baru.

Semakin besar kemampuan AI, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan teknologi tersebut digunakan secara aman dan bertanggung jawab. Stanford AI Index 2026 mencatat peningkatan insiden AI sekaligus menunjukkan bahwa kemampuan teknis berkembang lebih cepat daripada sebagian mekanisme untuk mengelola risikonya.

Jadi, Siapa Sebenarnya yang Menciptakan AI?

Tidak ada satu "penemu AI" seperti seseorang menemukan bola lampu atau telepon.

AI merupakan hasil perkembangan panjang dari banyak ilmuwan dan bidang ilmu.

Namun beberapa nama memiliki posisi sangat penting dalam sejarahnya.

Alan Turing membantu meletakkan dasar pemikiran mengenai mesin dan kecerdasan melalui karyanya pada 1950.

Warren McCulloch dan Walter Pitts memberikan salah satu fondasi matematis bagi gagasan jaringan saraf.

John McCarthy kemudian memperkenalkan istilah artificial intelligence dan menjadi tokoh utama dalam penyelenggaraan Dartmouth Summer Research Project pada 1956.

Marvin Minsky, Nathaniel Rochester, Claude Shannon, Allen Newell, Herbert Simon, serta banyak peneliti lainnya kemudian berkontribusi dalam membentuk perkembangan awal bidang AI.

Jadi, sejarah AI bukanlah cerita tentang satu orang yang tiba-tiba menciptakan mesin pintar.

Ini adalah cerita tentang puluhan tahun penelitian manusia untuk memahami kecerdasan dan mencoba menerapkannya pada mesin.

Dari Mesin Berpikir ke AI yang Ada di Ponsel

Perjalanan AI memperlihatkan perubahan yang luar biasa.

Pada 1950-an, ilmuwan baru membahas apakah mesin dapat meniru kecerdasan manusia.

Hari ini, AI dapat digunakan masyarakat melalui komputer dan ponsel untuk menulis, menerjemahkan, membuat gambar, menganalisis informasi, membantu pemrograman dan berbagai pekerjaan lainnya.

Dalam laporan 2026, Stanford mencatat bahwa generative AI mencapai tingkat adopsi populasi sekitar 53 persen hanya dalam tiga tahun sejak diperkenalkan ke pasar massal, lebih cepat dibandingkan perjalanan adopsi komputer pribadi maupun internet.

Perubahan tersebut menjelaskan mengapa AI menjadi salah satu teknologi paling banyak dibicarakan saat ini.

Kesimpulan

Sejarah AI dimulai jauh sebelum ChatGPT.

Gagasan mengenai mesin yang mampu menunjukkan kecerdasan berkembang melalui pemikiran Alan Turing, penelitian jaringan saraf, perkembangan komputer, dan kemudian penelitian yang secara khusus membentuk bidang AI.

Tahun 1956 menjadi salah satu titik paling penting karena Dartmouth Summer Research Project memperkenalkan AI sebagai bidang penelitian yang lebih terstruktur, dengan John McCarthy sebagai tokoh utama dalam pencetusan istilah artificial intelligence.

AI kemudian berkembang dari sistem berbasis aturan menjadi machine learning, deep learning, large language model hingga generative AI.

Sementara itu, alasan dunia berlomba mengembangkan AI semakin jelas: potensi produktivitas, nilai ekonomi, keunggulan teknologi, penelitian, dan pengaruh strategisnya yang semakin besar.

Dengan demikian, perlombaan AI sebenarnya bukan sekadar perlombaan membuat chatbot yang semakin pintar.

Ini adalah perlombaan untuk menentukan bagaimana manusia akan menggunakan kemampuan komputasi dan kecerdasan mesin dalam beberapa dekade mendatang.
Komentar

Tampilkan

  • Sejarah AI: Siapa yang Menciptakan, Mengapa AI Dibuat, dan Mengapa Dunia Berlomba Mengembangkannya?
  • 0

Iklan