Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis (kiri) menangis dihadapan Menteri Pertanian untuk meminta pemerintah pusat membantu perbaikan 2.400 hektare lahan pertanian yang rusak akibat bencana hidrometeorologi
Pumpunan - Langit Padang Pariaman masih menyisakan cerita panjang tentang banjir dan longsor yang beberapa waktu lalu menghantam wilayah itu. Di balik lumpur yang menutup pematang sawah dan irigasi yang rusak, ada ribuan petani yang kehilangan harapan. Bagi mereka, tanah bukan sekadar ladang, tetapi sumber hidup.
Di tengah situasi itu, Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis memikul beban yang tidak ringan. Ia tidak hanya memimpin daerah yang sedang memulihkan diri dari bencana, tetapi juga harus memastikan petani kembali bangkit.
Salah satu momen paling mengharukan terjadi ketika ia bertemu Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat Rakernas XVII APKASI di Batam (19/01/2026).
Ia memohon pemerintah pusat membantu memperbaiki lahan pertanian mencapai 2.400 hektare karena dengan luas tersebut tidak akan mampu bagi pemerintah daerah menanganinya di tengah desakan perekonomian petani yang semakin terjepit karena tidak bisa bertani.
Di ruang pertemuan yang dihadiri oleh sang menteri dan banyak kepala daerah di Indonesia, John Kenedy Azis menyampaikan kondisi pertanian di Padang Pariaman yang terdampak bencana. Ia bercerita tentang sawah yang rusak, saluran irigasi yang tertimbun, dan petani yang terancam kehilangan musim tanam.
Suara Bupati sempat bergetar ketika menggambarkan keadaan masyarakatnya. Di hadapan Menteri Pertanian, ia tidak lagi sekadar pejabat daerah, melainkan seorang pemimpin yang merasakan langsung penderitaan warganya.
Air matanya jatuh ketika memohon dukungan pemerintah pusat agar sektor pertanian di daerahnya tidak semakin terpuruk.
Bagi John Kenedy Azis, tangisan itu bukanlah tanda kelemahan. Itu adalah ekspresi kepedulian terhadap ribuan keluarga petani yang hidupnya bergantung pada tanah yang kini rusak.
Dalam pertemuan tersebut, ia memaparkan berbagai kebutuhan mendesak untuk memulihkan pertanian di Padang Pariaman. Mulai dari rehabilitasi lahan yang rusak, perbaikan irigasi, hingga bantuan alat dan mesin pertanian.
Permintaan itu bukan sekadar proposal di atas kertas. Ia membawa cerita nyata dari lapangan: petani yang kehilangan benih, sawah yang tertutup lumpur, dan musim tanam yang terancam gagal.
Upaya itu akhirnya mendapat perhatian dari Kementerian Pertanian. Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia merealisasikan bantuan untuk Kabupaten Padang Pariaman.
Total bantuan yang diberikan mencapai sekitar Rp12,5 miliar. Bantuan tersebut diarahkan untuk memperkuat kembali sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat daerah. Bantuan tersebut menjadi angin segar bagi para petani yang sebelumnya dihantui ketidakpastian.
Anggaran Rp12,5 miliar tersebut disalurkan melalui dana tugas pembantuan pada Satuan Kerja XIII Provinsi Sumbar dalam bentuk program bantuan pemerintah untuk enam kegiatan. Enam kegiatan tersebut yaitu optimalisasi lahan (Oplah) sawah non rawan bencana, rehabilitasi lahan terdampak bencana, perbaikan dam parit, irigasi perpipaan, irigasi perpompaan, dan perbaikan jaringan irigasi tersier di Padang Pariaman.
Salah satu kegiatan Oplah bencana yang saat ini telah masuk penetapan dan menyasar 18 kelompok tani di 9 kecamatan yaitu optimalisasi lahan rusak ringan karena sedimentasi setinggi sekitar 10 hingga 30 sentimeter dengan luas 446 hektare dan mengalami kerusakan pada jaringan irigasi tersier.
Melalui program Oplah tersebut dilakukan pengerukan sedimentasi pada lahan sawah maupun saluran irigasi tersier serta perbaikan jaringan irigasi tersier yang rusak akibat bencana.
Kegiatan lainnya yaitu program rehabilitasi lahan untuk sawah yang mengalami kerusakan sedang karena indikasi sedimentasi lebih tebal dengan ketinggian di atas 30 sentimeter hingga 100 sentimeter dengan minimal terdampak 5 hektare.
Rencananya kegiatan optimasi lahan sawah terdampak bencana akan mulai dilaksanakan awal Maret sedangkan rehabilitasi lahan dijadwalkan dimulai setelah Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah.
Bagi banyak warga Padang Pariaman, peristiwa kepala daerahnya menangis menjadi simbol bahwa perjuangan seorang pemimpin tidak selalu ditunjukkan dengan pidato panjang atau angka statistik. Kadang, ia hadir dalam bentuk air mata yang jatuh karena memikirkan rakyatnya.
Dengan dikucurkannya bantuan tersebut memberikan harapan bagi petani yang sempat tenggelam bersama banjir. Kini sedikit demi sedikit bangkit kembali meskipun masih banyak lahan pertanian yang mesti harus di tangani khususnya yang berdampak berat.
Dan di balik semua itu, ada perjuangan seorang kepala daerah yang tidak ragu menunjukkan kepedulian—bahkan dengan air mata—demi masa depan petani di tanahnya.