Chargés d'Affaires ad interim Jepang di Indonesia, Myochin Mitsuru, mengungkapkan bahwa populasi pekerja Indonesia di Jepang saat ini telah menyentuh angka 180.000 orang. Laju pertumbuhan ini tercatat sebagai yang tercepat dibandingkan dengan negara-negara mitra lainnya.
"Sekarang jumlah pekerja Indonesia sudah mencapai 180.000 orang di Jepang. Itu membuktikan bahwa masyarakat Jepang kini tidak memiliki keraguan untuk menerima pekerja Muslim, termasuk dari Indonesia," ujar Myochin seperti dikutip dari CNBC, Rabu (4/3).
Berikut dasar Jepang tertarik dengan tenaga kerja dari Indonesia
Etos Kerja sebagai Kunci Penerimaan
Myochin mengakui bahwa secara historis, masyarakat Jepang memiliki keterbatasan pengetahuan mengenai komunitas Muslim. Namun, kehadiran pekerja Indonesia telah mendobrak batasan tersebut melalui interaksi langsung yang positif.
Ia menyoroti alasan utama mengapa Jepang kian memprioritaskan tenaga kerja Indonesia, bahkan di wilayah pedesaan yang dikenal konservatif:
Kedisiplinan: Pekerja Indonesia dinilai memiliki sifat rajin dalam menjalankan tugas.
Integritas: Kejujuran menjadi nilai tambah yang sangat dihargai oleh pemberi kerja di Jepang.
Karakter Positif: Etos kerja yang baik membuat proses asimilasi budaya menjadi lebih mudah.
"Orang-orang di daerah pedesaan Jepang akhirnya menyadari bahwa pekerja Indonesia itu rajin, jujur, dan baik. Itu sebabnya penerimaan terhadap mereka semakin besar," katanya menjelaskan.
Diplomasi "People-to-People"
Peningkatan jumlah pekerja ini dinilai tidak sekadar mengisi kekosongan sektor ketenagakerjaan, tetapi juga memperkokoh fondasi hubungan bilateral melalui people-to-people contact.
Belajar dari masa pandemi COVID-19 yang membatasi interaksi fisik, Myochin menekankan bahwa pertemuan langsung adalah elemen krusial untuk membangun rasa saling hormat dan memahami latar belakang budaya masing-masing.
"Pertemuan langsung dan pertukaran secara personal itu sangat penting untuk saling memahami dengan lebih baik," tuturnya.
Kekaguman pada Budaya Ramadan
Dalam kesempatan tersebut, Myochin juga mengungkapkan kekagumannya terhadap tradisi Ramadan di Indonesia. Ia melihat semangat menahan diri hingga waktu berbuka sebagai pengalaman budaya yang mendalam.
Bahkan, ia menyitir peribahasa Jepang, "Hunger is the best seasoning" (rasa lapar adalah bumbu terbaik), untuk menggambarkan betapa istimewanya momen berbuka puasa setelah seharian menahan diri.
Meski agenda kerja yang padat belum memungkinkannya ikut berpuasa, ia mengaku sangat terbuka untuk merasakan pengalaman tersebut di masa depan.