-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Filantrofi "Buta" di Trotoar Ramadhan: Sedekah yang Membunuh

Jumat, 06 Maret 2026 | 9:45 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-06T14:47:24Z


Pumpunan - Ramadhan di jalanan kita hari ini bukan lagi sekadar soal menahan lapar, melainkan soal adu gengsi konten "berbagi". 

Di trotoar-trotoar kota, pemandangan mobil mewah berhenti mendadak untuk membagikan ratusan paket takjil gratis sudah menjadi ritual wajib. 

Sebuah pemandangan yang sekilas tampak surgawi, namun jika ditelaah lebih dalam, sebenarnya adalah "malaikat maut" bagi ekonomi kecil di sekitarnya.

Ironi paling mutakhir terjadi ketika sekelompok orang—atas nama kesalehan sosial—membagikan gorengan dan kolak gratis tepat di depan deretan lapak UMKM yang sedang mengadu nasib. 

Para pedagang takjil musiman ini, yang modalnya didapat dari menggadaikan entah apa, hanya bisa melongo. Mereka berdiri di balik meja dagangannya, menonton calon pembeli mereka beralih antre ke mobil-mobil dermawan tersebut. Ini adalah bentuk filantropi yang "buta" peta.

Sedekah yang Memakan Saudara
Kita tentu sepakat bahwa memberi makan orang berpuasa adalah pahala besar. Namun, menjadi aneh ketika niat suci itu justru mematikan periuk nasi tetangga sendiri. 

Para pelaku UMKM takjil ini menggantungkan hidup setahun sekali pada momen 30 hari ini. Ketika Anda datang membawa 500 paket takjil "impor" dari katering langganan dan membagikannya secara cuma-cuma di kawasan pasar takjil, Anda sebenarnya sedang melakukan kanibalisme ekonomi secara halus.

Siapa yang mau membeli kolak Rp5.000 jika di sebelahnya ada kolak gratis plus stiker "Hamba Allah"? Akibatnya, menjelang azan Maghrib, para pedagang kecil ini terpaksa membawa pulang dagangan mereka yang basi, atau ikut-ikutan menyedekahkannya karena tak laku—bedanya, mereka sedekah sambil mengelus dada karena modal tak kembali.

Solusi: Membeli Sambil Memberi
Jika penyelenggara takjil gratis ini benar-benar ingin meraih "pahala ganda", logikanya sederhana saja: Boronglah dagangan mereka.
Alih-alih memesan paket dari restoran besar atau memasak sendiri secara eksklusif, alangkah eloknya jika anggaran sedekah itu diputar di lapak-lapak UMKM sekitar. 

Datangi pedagang gorengan di pinggir jalan, tawar harganya karena memesan dalam jumlah banyak, lalu bagikan kembali di tempat yang tepat—atau biarkan pedagang itu yang membagikannya atas nama Anda.

Dengan begitu, dua target tercapai sekaligus: perut si penerima kenyang, dan kantong si pedagang tenang. Uang berputar di akar rumput, bukan kembali ke dapur-dapur mapan.
Sedekah itu sejatinya memberdayakan, bukan memperdaya. 

Jangan sampai niat kita mengejar ridha Tuhan justru meninggalkan jejak air mata pada mereka yang sedang berjuang menyambung nyawa melalui jualan takjil di pinggir jalan.

Jangan biarkan Ramadhan menjadi panggung di mana si kaya merasa suci dengan cara membuat si miskin semakin merugi. Mari berbagi dengan otak, bukan sekadar dengan kotak.

×
Berita Terbaru Update