Pernyataan tersebut disampaikan Mentan usai melakukan pertemuan dengan belasan rektor dari berbagai perguruan tinggi di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Kamis.
Amran menjelaskan bahwa kelapa kini menjadi komoditas dengan permintaan pasar global yang sangat tinggi, sehingga pengelolaannya harus didukung oleh perkembangan teknologi tepat guna.
“Ada alat panjat, jadi tidak menggunakan lagi monyet, tapi ada alat baru, kami langsung minta 10 unit uji coba,” ujar Amran saat ditemui di Kementan, Jakarta, seperti dikutip dari Kompas (12/3/2026).
Meskipun telah memesan unit untuk tahap awal, Amran belum bersedia mengungkapkan harga per unit alat panjat tersebut karena saat ini prosesnya masih dalam tahap negosiasi.
Namun, ia menekankan bahwa aspek keselamatan pekerja menjadi prioritas utama. Menurutnya, pemetik kelapa memiliki risiko kecelakaan kerja yang sangat tinggi, sehingga inovasi dari ITS tersebut rencananya akan diproduksi dalam jumlah banyak.
Amran pun sempat berbagi pengalaman pribadinya saat masih menjadi pekerja lapangan, di mana ia merasakan langsung betapa bahayanya memanjat pohon kelapa secara manual.
“Saya dulu kerja aku panjat kelapa. Kalau kelapa, kita naik, belum ada angin. Begitu di atas, ada angin,” kata Amran.
Ia menambahkan, risiko tersebut sering kali membuat pemanjat merasa was-was saat berada di ketinggian.
Melalui teknologi ini, diharapkan ketergantungan pada tenaga hewan maupun metode konvensional yang berisiko dapat segera beralih ke mekanisasi.
"Kita berdoa di atas, semua doa-doa keluar. Nah, kemudian ada juga gunakan monyet. Nah sekarang kita gunakan alat-alat,” tambahnya.