Pumpunan - Pembangunan kota oleh pemerintah kolonial Belanda di Indonesia sering kali didasari oleh kepentingan ekonomi, militer, dan kesehatan. Beberapa kota yang kita kenal sekarang awalnya hanyalah hutan, rawa, atau desa kecil yang kemudian dirancang secara terencana menggunakan konsep tata kota Eropa.
Berikut adalah daftar kota di Indonesia yang dibangun oleh Belanda dari nol juga ada yang dikembangkan. Adapun kota-kota tersebut yaitu diantaranya:
1. Bandung, Jawa Barat (Parijs van Java)
Kota Bandung dibangun secara intensif tahun 1810. Awalnya merupakan wilayah hutan yang dibuka karena pembangunan Groot Postweg (Jalan Raya Pos) oleh Daendels. Alasan utamanya adalah keamanan militer dan faktor kesehatan; iklim Bandung yang sejuk dianggap lebih baik dibandingkan Batavia yang saat itu sangat panas dan rawan wabah penyakit.
Saat ini Bandung menjadi pusat pendidikan, teknologi, dan kawasan wisata sejarah (Heritage). Pusat kota lama seperti Jalan Braga masih mempertahankan arsitektur Art Deco yang menjadi daya tarik wisatawan mancanegara.
2. Sawahlunto, Sumatera Barat
Kota Sawahlunto dibangun sekitar tahun 1888. Kota ini benar-benar dibangun dari "titik nol" setelah ditemukannya cadangan batu bara oleh geolog Belanda, Willem Hendrik de Greve. Belanda membangun infrastruktur pertambangan, pemukiman pegawai, hingga jalur kereta api khusus untuk mengangkut hasil tambang ke pelabuhan.
Saat ini Sawahlunto menjadi Kota Tua Tambang yang sangat terawat. Pada 2019, Sawahlunto ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO (Ombilin Coal Mining Heritage), menjadikannya destinasi wisata sejarah kelas dunia.
3. Sabang, Aceh
Sabang mulai dikembangkan tahun 1887. Belanda membangun Sabang sebagai pelabuhan bebas (Free Port) untuk menyaingi Singapura. Lokasinya yang strategis di mulut Selat Malaka menjadikannya stasiun pengisian batu bara bagi kapal-kapal besar yang melintasi samudera.
Sabang saat ini bertransformasi menjadi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Wisatawan berkunjung ke sini untuk menikmati keindahan bawah laut, benteng-benteng tua, dan statusnya sebagai "Titik Nol Kilometer Indonesia."
4. Malang, Jawa Timur
Malang status kota otonom sejak 1914. Malang dirancang sebagai "Kota Peristirahatan" bagi warga Eropa yang bekerja di perkebunan besar di sekitar Jawa Timur. Thomas Karsten, perencana kota terkenal saat itu, merancang Malang dengan banyak taman kota dan jalanan yang lebar agar mirip dengan suasana di Belanda.
Malang dikenal sebagai Kota Pendidikan dan Wisata Kuliner. Kawasan seperti Jalan Ijen masih mempertahankan bentuk aslinya sebagai zona perumahan elite masa kolonial dengan pohon-pohon palem yang ikonik.
5. Salatiga, Jawa Tengah
Salatiga .ulai berkembang pesat di awal abad ke-20. Karena letaknya yang berada di lereng Gunung Merbabu dengan udara yang sangat sejuk, Belanda menjuluki kota ini sebagai De Schoonste Stad van Midden-Java (Kota Tercantik di Jawa Tengah). Kota ini dibangun sebagai pusat peristirahatan militer dan elit Belanda.
Saat ini Salatiga menjadi salah satu kota paling toleran di Indonesia dan pusat transit wisata menuju kawasan pegunungan.
Bangunan-bangunan tua masih banyak yang berfungsi sebagai kantor pemerintahan dan sekolah.
6. Bukittinggi, Sumatera Barat (Fort de Kock)
Kota yang dibangun sekitar tahun 1825 ini awalnya merupakan benteng pertahanan bernama Fort de Kock yang dibangun saat Perang Paderi. Belanda membangun kota ini sebagai pusat administrasi militer karena letaknya yang strategis di atas bukit, memberikan pandangan luas ke sekeliling untuk mengawasi pergerakan lawan.
Bukittinggi saat ini menjadi ikon wisata utama di Sumatera Barat. Terkenal dengan Jam Gadang, Ngarai Sianok, dan udara yang sejuk. Warisan kolonial masih sangat terasa di kawasan benteng dan tata ruang pasar pusat kota.
7. Balikpapan, Kalimantan Timur
Kota Balikpapan dibangun intensif pada 1897.
Kota ini dibangun sepenuhnya untuk kepentingan industri minyak setelah pengeboran sumur Mathilda berhasil. Belanda (melalui Bataafsche Petroleum Maatschappij) merancang kota ini sebagai kawasan industri eksklusif lengkap dengan pemukiman untuk ekspatriat, kilang, dan fasilitas pelabuhan.
Saat ini kota ini menjadi pusat industri minyak dan gas di Indonesia. Meskipun berkembang menjadi metropolis modern, tata ruang kota peninggalan Belanda masih terlihat di kawasan perumahan Pertamina (kawasan Parama) yang tetap asri dan tertata rapi.
8. Tanjung Pandan, Belitung
Tanjung Pandan dibangun pada pertengahan abad ke-19 (1850-an). Kota ini dibangun oleh perusahaan tambang NV Billiton Maatschappij. Sebelum timah ditemukan, wilayah ini hanyalah pemukiman kecil. Belanda membangun kota ini dengan sistem blok-blok yang sangat teratur untuk menampung pekerja tambang, administrasi perusahaan, dan rumah sakit.
Saat ini kota tersebut menjadi pintu gerbang utama wisata Belitung. Kawasan pusat kota masih mempertahankan gedung-gedung tua peninggalan perusahaan timah Belanda yang kini sering dijadikan latar foto bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan UNESCO Global Geopark.
9. Bogor, Jawa Barat (Buitenzorg)
Bogor mulai berkembang pesat sejak 1745. Gubernur Jenderal Baron van Imhoff mencari tempat yang jauh dari polusi dan panasnya Batavia. Ia membangun Istana Buitenzorg (artinya: tempat tanpa kecemasan). Kota ini kemudian dikembangkan sebagai pusat penelitian botani dan tempat tinggal elite Belanda saat musim panas.
Bogor saat ini menjadi Kota Wisata Keluarga dan Pusat Penelitian. Keberadaan Kebun Raya Bogor (1817) dan Istana Bogor adalah bukti nyata perencanaan kota yang memadukan keasrian alam dengan kebutuhan hunian.
10. Jayapura, Papua (Hollandia)
Kota ini dibangun pada 1910. Didirikan oleh Kapten Sachse sebagai pos perbatasan antara wilayah Hindia Belanda dengan Jerman di New Guinea. Belanda sengaja membangun kota ini sebagai simbol kehadiran administratif mereka di ufuk timur nusantara.
Jayapura saat ini berperan sebagai Ibu Kota Provinsi Papua. Jayapura kini menjadi pusat ekonomi dan pendidikan di Papua dengan topografi yang unik, memadukan kawasan pesisir Teluk Humbolt dengan perbukitan yang hijau.
Kota-kota di atas menunjukkan bahwa kolonialisme Belanda tidak hanya meninggalkan gedung, tapi juga cetak biru (blueprint) tata kota yang fungsional sesuai dengan potensi daerah masing-masing.
Pembangunan kota-kota tersebut meninggalkan warisan berupa tata ruang yang lebih teratur dibandingkan kota-kota yang tumbuh secara organik. Sebagian besar kota ini sekarang mengandalkan wisata sejarah (heritage tourism) sebagai penggerak ekonomi mereka.