Meskipun teks asli dari suhuf ini tidak lagi ada secara fisik hari ini, para ulama dan sejarawan merangkum inti ajarannya berdasarkan riwayat-riwayat tepercaya. Berikut adalah rincian ajaran spesifik yang terkandung di dalamnya:
1. Fondasi Tauhid dan Ibadah Formal
Setelah wafatnya Adam, Iblis mulai melancarkan strategi untuk memalingkan manusia. Suhuf Nabi Syits hadir sebagai "benteng" pertama.
- Kemurnian Tauhid: Penekanan bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, tanpa perantara. Ini penting karena pada masa itu, bibit-bibit pengagungan berlebihan terhadap manusia (yang nantinya menjadi asal-usul berhala) mulai muncul.
- Tata Cara Shalat dan Puasa: Suhuf ini mengatur waktu-waktu ibadah yang spesifik. Dalam beberapa riwayat, disebutkan adanya perintah shalat di waktu-waktu tertentu yang menjadi cikal bakal shalat lima waktu.
- Zakat dan Sedekah: Aturan mengenai pemberian sebagian hasil bumi untuk mereka yang membutuhkan di antara komunitas mukmin.
2. Hukum Sosial dan Larangan Syariat
Suhuf Nabi Syits mengatur interaksi manusia yang populasinya mulai meledak.
- Larangan Khamr dan Perzinaan: Syariat Nabi Syits secara tegas melarang minuman keras dan hubungan di luar nikah. Hal ini dikarenakan keturunan Qabil di lembah mulai mempraktikkan gaya hidup bebas yang penuh dengan pesta pora.
- Pemisahan Komunitas (Segregasi): Salah satu perintah paling spesifik dalam suhuf tersebut adalah larangan bagi pengikut Syits (yang tinggal di dataran tinggi/pegunungan) untuk turun dan bercampur dengan keturunan Qabil (yang tinggal di lembah). Ini bertujuan menjaga moralitas dan kesucian nasab.
3. Ilmu Pengetahuan dan Peradaban
Nabi Syits bukan hanya pemimpin spiritual, tapi juga peletak dasar sains awal. Beliau disebut-sebut sebagai nabi yang pertama kali mengkodifikasi ilmu-ilmu berikut dalam suhufnya:
- Sistem Penanggalan: Cara menghitung bulan dan tahun berdasarkan peredaran matahari dan bulan.
- Ilmu Matematika Dasar: Digunakan untuk pembagian waris dan pengukuran tanah pertanian.
- Teknik Kerajinan: Meskipun Nabi Idris sering dikaitkan dengan menjahit, suhuf Nabi Syits sudah memberikan panduan dasar tentang cara mengolah kulit hewan dan serat tumbuhan untuk pakaian yang menutup aurat dengan sempurna.
4. Etika dan Akhlak (Muamalah)
Ajaran Nabi Syits menekankan pada pembentukan karakter manusia yang beradab (Insan Kamil):
- Berbakti pada Orang Tua: Menghormati Siti Hawa (ibunya) dan menjaga wasiat-wasiat Nabi Adam.
- Kejujuran dalam Perniagaan: Larangan menipu dalam tukar-menukar barang (barter).
- Sabar dalam Ujian: Karena masa itu adalah masa transisi setelah kehilangan sosok Nabi Adam, suhuf ini berisi banyak doa-doa penguat hati.
Catatan Historis: Ajaran dalam suhuf ini terus dijaga oleh keturunan Nabi Syits hingga akhirnya manusia mulai melupakan dan menyimpang, yang kemudian memicu diutusnya Nabi Idris AS dengan mukjizat tulisan dan ilmu yang lebih tinggi.
Dapat dikatakan bahwa Nabi Syits adalah "peletak batu pertama" bagi sistem hukum dan peradaban manusia yang teratur di muka bumi. Tanpa ajarannya, mungkin manusia sudah kehilangan arah tak lama setelah Adam tiada.