Saifuddin H M Abd Muin Saideng. Foto: MCH
Makkah (Pumpunan) — Seorang jamaah haji asal Indonesia, Saifuddin H M Abd Muin Saideng atau yang akrab disapa Baso Tang, mendapatkan penghormatan langka dari pemerintah Arab Saudi, yakni namanya akan diabadikan sebagai nama sebuah masjid yang rencananya dibangun di Tanah Suci.
Pria berusia 56 tahun asal Pulau Kambuno, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan itu tak kuasa menahan haru saat mengetahui kabar tersebut. Air mata pun mengalir ketika ia berada di lobi hotel jamaah Indonesia di kawasan Jarwal, Makkah.
“Saya selalu menangis kalau ingat itu,” ujarnya lirih yang dikutip dari portal MUI Digital, Senin.
Baso Tang merupakan jamaah haji reguler Kloter UPG 17 yang berangkat bersama saudara kandung dan iparnya. Kisah mengharukan itu bermula usai shalat Isya, ketika sejumlah pria Arab mendatangi lobi hotel untuk mencari jamaah yang memenuhi kriteria tertentu.
Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIH) Kloter UPG 17, Faried Wajdi, menjelaskan rombongan tersebut merupakan bagian dari unsur kerajaan Arab Saudi yang tengah mencari jamaah haji tertua untuk diberikan penghormatan.
“Salah satu dari mereka bertanya apakah ada yang bisa berbahasa Arab. Teman-teman menunjuk saya karena tahu saya alumni Kairo,” kata Faried.
Dalam proses tersebut, Baso Tang yang baru tiba di lobi kemudian diperkenalkan sebagai jamaah tunanetra yang telah lama mengabdi sebagai imam masjid. Informasi itu menarik perhatian rombongan Arab.
Ia kemudian diminta melantunkan ayat suci Alquran di hadapan jamaah yang mulai berkerumun. Baso Tang memilih membaca Surah Al-Ashr dengan suara tenang dan penuh penghayatan.
“Saya baca surah pendek saja karena sudah banyak orang berkumpul. Takut lama,” katanya.
Menurut Faried, rombongan Arab tampak tersentuh setelah mengetahui Baso Tang telah puluhan tahun menjadi imam masjid meski mengalami kebutaan total. Tak lama berselang, mereka menyampaikan niat untuk membangun masjid wakaf atas nama Saifuddin sebagai bentuk penghormatan.
“Mereka bilang, uangnya dari pemerintah Arab Saudi, sementara masjidnya atas nama beliau,” ujar Faried.
Masjid tersebut direncanakan akan dibangun di Arab Saudi, dengan kemungkinan lokasi di Madinah. Pihak kerajaan disebut akan kembali menemui rombongan sebelum kepulangan jamaah ke Indonesia.
Selain penghormatan itu, Baso Tang juga menerima hadiah berupa sejadah. Namun baginya, penghormatan terbesar adalah diabadikannya nama dirinya sebagai nama rumah ibadah di Tanah Suci.
“Saya tidak sangka bisa seperti ini,” ujarnya.
Dikenal sebagai imam Masjid Baburrahman di kampung halamannya sejak 1985, Baso Tang telah mengabdikan diri selama lebih dari empat dekade. Ia tetap menjalankan amanah tersebut meski kehilangan penglihatan secara total sejak 1997.
Kesehariannya di kampung diisi dengan berdagang kebutuhan pokok seperti gas elpiji, bensin eceran, dan beras. Dari usaha kecil itulah ia menabung biaya haji secara bertahap melalui arisan selama enam tahun.
Meski hidup dalam keterbatasan, Baso Tang tetap menjalani aktivitasnya secara mandiri, termasuk berjalan ke masjid tanpa tongkat dengan mengandalkan ingatan dan rabaan.
Di Tanah Suci, ia terus memanjatkan doa, termasuk harapan agar penglihatannya kembali dan dipertemukan dengan jodoh.
Kisah Baso Tang menjadi potret keteguhan dan ketulusan pengabdian seorang hamba, yang pada akhirnya mendapat penghormatan tak terduga hingga namanya akan dikenang melalui sebuah masjid di Tanah Suci.