Pumpunan - Nabi Adam AS diciptakan sebagai khalifah di bumi, namun sebelum itu ia ditempatkan di surga bersama Hawa. Allah memberikan segala kenikmatan, kecuali satu larangan: jangan mendekati pohon khuldi. Namun, tipu daya Iblis membuat Adam dan Hawa tergelincir, yang berujung pada diturunkannya mereka ke bumi.
Dalam kesendirian dan penyesalan yang mendalam di bumi, Nabi Adam terus memohon ampunan. Meski Al-Qur'an mencatat doa utama beliau dalam Surah Al-A'raf ayat 23 ("Rabbana dhalamma anfusana..."), terdapat riwayat dalam kitab-kitab hadis dan tarikh mengenai cara unik Adam menjemput ampunan Allah.
Dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, disebutkan bahwa saat Nabi Adam sedang bersujud memohon ampunan, ia teringat pada suatu pemandangan saat ia baru saja diciptakan.
Dialog Adam dan Allah SWT
Nabi Adam berkata:
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu demi hak Muhammad, ampunilah aku."
Allah bertanya (padahal Dia Maha Mengetahui): "Wahai Adam, bagaimana engkau mengenal Muhammad padahal aku belum menciptakannya?"
Adam menjawab:
"Ya Allah, ketika Engkau menciptakanku dan meniupkan ruh ke dalam tubuhku, aku mengangkat kepalaku dan melihat di tiang-tiang Arasy tertulis kalimat Laa ilaha illallah Muhammadur Rasulullah. Maka aku sadar, Engkau tidak akan menyandingkan sebuah nama dengan nama-Mu kecuali ia adalah makhluk yang paling Engkau cintai."
Allah pun berfirman: "Engkau benar, wahai Adam. Dia adalah makhluk yang paling Aku cintai. Karena engkau meminta dengan haknya, maka Aku telah mengampunimu. Jika bukan karena Muhammad, Aku tidak akan menciptakanmu."
Kisah ini mengandung beberapa pesan mendalam bagi umat Islam:
- Kedudukan Rasulullah SAW: Nama Nabi Muhammad telah mulia bahkan sebelum wujud fisiknya ada di dunia (sebagai Nur Muhammad).
- Hakikat Tawasul: Menggunakan wasilah (perantara) berupa kecintaan kepada kekasih Allah dalam berdoa adalah bagian dari khazanah literatur Islam.
- Kasih Sayang Allah: Allah selalu membuka pintu tobat bagi hamba-Nya yang sungguh-sungguh, bahkan memberikan "petunjuk" tentang bagaimana cara meminta agar dikabulkan.
Penting untuk diketahui bahwa riwayat ini (sering disebut Hadis Tawasul Adam) memiliki status diskusi di kalangan ulama hadis. Sebagian menganggapnya shahih (seperti Al-Hakim), sementara sebagian lainnya menilai sanadnya lemah (dhaif). Namun, secara makna, pesan tentang kemuliaan Nabi Muhammad SAW adalah hal yang disepakati oleh seluruh umat Islam.