Langkah kreatif yang dilakukan oleh Sawirman (60) ini mendapat perhatian langsung dari pemerintah daerah. Ia memanfaatkan lahan tidur milik warga lain untuk menanam sedikitnya 9.300 batang cabai, sebuah upaya yang dinilai strategis dalam mendongkrak ekonomi keluarga sekaligus mendukung kemandirian pangan di Kota Pariaman.
"Kami mengapresiasi warga yang telah mengolah lahan pertanian yang sudah lama terbengkalai menjadi lebih produktif, karena ini sejalan dengan program kami untuk mendukung program pemerintah pusat dalam hal ketahanan pangan," ujar Wali Kota Pariaman, Yota Balad, saat meninjau lokasi di Pariaman, Selasa.
Yota mengungkapkan bahwa pihaknya telah memberikan instruksi khusus kepada Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kota Pariaman untuk melakukan pemetaan menyeluruh terhadap lahan-lahan tidur di wilayah tersebut.
Hal ini bertujuan untuk menentukan komoditas yang tepat agar lahan yang tidak terurus dapat kembali memberikan nilai ekonomis.
“Upaya tersebut menjadi langkah strategis Pemkot Pariaman untuk menghidupkan kembali lahan tidur sekaligus memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan di Kota Pariaman,” tegasnya.
Menanggapi keluhan terkait ketiadaan irigasi yang menjadi alasan utama petani membiarkan lahan mereka tidak produktif, Yota menyatakan komitmen pemerintah untuk membangun infrastruktur pendukung.
Rencananya, saluran irigasi baru akan dibangun dari Desa Rawang menuju Dusun Kampung Sato, Desa Pauh Timur, guna memastikan sawah-sawah yang terlantar dapat digarap kembali.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pariaman, produksi cabai di daerah tersebut memang tengah mengalami tantangan. Pada 2025, produksi cabai rawit dan merah keriting tercatat sebesar 27,06 ton, mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun 2024 yang mampu mencapai 49,41 ton.
Di sisi lain, Sawirman menceritakan bahwa lahan yang ia garap saat ini merupakan bekas persawahan yang sudah enam tahun dipenuhi semak belukar.
"Saya hubungi pemiliknya (minta izin) agar lahan tersebut bisa saya olah menjadi lahan yang produktif. Kebetulan pemiliknya setuju, maka saya jadikan ladang cabai," ungkap Sawirman.
Keputusan menanam cabai diambil sebagai alternatif yang lebih tahan terhadap keterbatasan air dibandingkan padi, di samping nilai ekonomisnya yang dianggap lebih menjanjikan.
"Semoga pada panen nanti, sekitar dua bulan lagi kami mendapatkan hasil panen yang maksimal," harapnya.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Rawang, Rafkiman, mengapresiasi semangat warganya dalam memanfaatkan potensi yang ada. Meski menyambut baik rencana pembangunan irigasi dari Pemkot Pariaman, ia menekankan pentingnya realisasi yang cepat.
Ia berharap rencana tersebut tidak sekadar menjadi wacana, melainkan segera diwujudkan agar petani setempat dapat kembali turun ke sawah dengan jaminan pengairan yang baik demi hasil panen yang melimpah.