-->

Feature

Iklan

Penjelasan BMKG terkait cuaca panas yang kemudian hujan

Jumat, 08 Mei 2026, 6:18 AM WIB Last Updated 2026-05-07T23:18:55Z

Pumpunan - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa hampir seluruh wilayah Indonesia mengalami fenomena anomali suhu di atas normal sepanjang April 2026, yang menyebabkan cuaca terasa lebih panas dari biasanya.

Berdasarkan data dari 116 stasiun pengamatan BMKG, anomali suhu rata-rata pada bulan April 2026 terhadap periode normal 1991-2020 didominasi oleh nilai positif. Hal ini mengindikasikan bahwa suhu udara saat ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata historis pada bulan yang sama di tahun-tahun sebelumnya.

Catatan BMKG menunjukkan anomali suhu tertinggi terjadi di Serang, Banten, dengan kenaikan mencapai +1,4°C di atas normal. Wilayah lain yang mencatatkan kenaikan signifikan meliputi Jakarta Utara (+1,27°C), Kepulauan Sula di Maluku (+1,24°C), Jakarta Timur (+1,21°C), dan Minahasa Utara, Sulawesi Utara (+1,16°C).

Sebaliknya, data menunjukkan tidak ada satu pun wilayah di tanah air yang mencatatkan anomali suhu rendah ekstrem di bawah -1°C. Anomali negatif terbesar hanya tercatat sebesar -0,2°C di wilayah Tual, Maluku Tenggara.

Meski Indonesia saat ini mulai bergerak memasuki musim kemarau, BMKG mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang masih mengintai sebagian besar wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan.

Lembaga meteorologi tersebut menjelaskan bahwa sejumlah faktor atmosfer menjadi pemicu intensitas hujan yang tinggi, termasuk aktivitas gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG) yang terpantau melintasi wilayah nusantara.

"Gelombang atmosfer tersebut berperan dalam memodulasi proses konvektif pada skala yang lebih luas, sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah," tulis BMKG dalam keterangan resmi di laman mereka, Senin (4/5).

Selain aktivitas gelombang tersebut, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) juga diprediksi masih bertahan di fase 2 (Samudera Hindia). 

Keberadaan MJO ini berkontribusi besar dalam mendorong pembentukan awan hujan di wilayah barat Indonesia, mulai dari pesisir barat Sumatra, sebagian Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

"Kondisi ini dapat meningkatkan potensi pembentukan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi atau konfluensi tersebut," ujar BMKG.

Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor, meskipun suhu udara di lingkungan sekitar cenderung terasa lebih gerah.





Komentar

Tampilkan

  • Penjelasan BMKG terkait cuaca panas yang kemudian hujan
  • 0

Iklan