-->

Feature

Iklan

Negara yang Menawarkan Uang Tunai bagi Warga Asing yang Mau Jadi Penduduk Baru

Sabtu, 15 Agustus 2026, 4:09 PM WIB Last Updated 2026-08-15T09:09:49Z

Pumpunan — Mendapatkan uang karena pindah dan menetap di negara lain mungkin terdengar seperti sesuatu yang sulit dipercaya. Namun, sejumlah negara dan pemerintah daerah di berbagai belahan dunia memang menawarkan insentif finansial bagi pendatang yang bersedia tinggal, bekerja, membuka usaha, atau merenovasi rumah di wilayah yang membutuhkan tambahan penduduk.

Program tersebut muncul bukan semata-mata untuk menarik warga asing. Di baliknya terdapat persoalan demografi yang semakin serius, mulai dari penurunan jumlah penduduk, populasi yang menua, kekurangan tenaga kerja, hingga desa-desa yang kehilangan generasi mudanya.

Karena itu, istilah “dibayar untuk pindah” perlu dipahami secara hati-hati. Sebagian besar program tidak memberikan uang tunai begitu saja setelah seseorang tiba di negara tujuan. Penerima biasanya harus memenuhi sejumlah persyaratan, seperti membeli atau merenovasi rumah, membuka usaha, memiliki pekerjaan, tinggal selama beberapa tahun, atau pindah ke wilayah tertentu.

Pada 2026, sejumlah program seperti itu masih menjadi perhatian, terutama di Eropa dan Asia. Forbes mencatat sedikitnya delapan negara menawarkan bentuk insentif relokasi, baik berupa hibah tunai, bantuan perumahan, pendanaan usaha maupun dukungan bagi pekerja jarak jauh.

Italia, hingga puluhan ribu euro

Italia menjadi salah satu negara yang paling sering dikaitkan dengan program “dibayar untuk pindah”. Namun, insentif tersebut umumnya berasal dari pemerintah daerah atau kota-kota kecil, bukan program nasional yang berlaku untuk seluruh wilayah Italia.

Di sejumlah wilayah pedesaan, pemerintah daerah menawarkan bantuan kepada pendatang yang bersedia menetap dan menghidupkan kembali perekonomian lokal.

Salah satu contoh yang banyak mendapat perhatian adalah Calabria. Program yang dikenal sebagai Active Residency Income atau Reddito di Residenza Attiva dirancang untuk menarik penduduk baru ke desa-desa kecil yang mengalami penurunan populasi.

Nilai bantuan yang diberitakan mencapai sekitar 28.000 hingga 30.000 euro. Namun, calon penerima tidak cukup hanya pindah. Program tersebut berkaitan dengan komitmen untuk tinggal di wilayah sasaran dan menjalankan kegiatan ekonomi atau usaha.

Italia juga memiliki fenomena rumah seharga 1 euro di sejumlah kota kecil. Skema tersebut bukan berarti pemerintah memberikan rumah secara gratis. Rumah terbengkalai dapat dijual dengan harga simbolis, tetapi pembeli harus memenuhi kewajiban renovasi dan ketentuan lain yang ditetapkan pemerintah kota.

Dengan demikian, “rumah 1 euro” lebih tepat dipandang sebagai strategi revitalisasi kawasan daripada hadiah properti.

Swiss, insentif puluhan ribu franc

Swiss memiliki salah satu contoh paling terkenal melalui Desa Albinen di Kanton Valais.

Desa kecil di kawasan Alpen tersebut menawarkan insentif untuk menarik penduduk baru. Skema yang banyak diberitakan memberikan sekitar 25.000 franc Swiss untuk orang dewasa dan 10.000 franc Swiss untuk setiap anak.

Namun, persyaratannya cukup berat.

Calon penerima harus memenuhi ketentuan usia, memiliki atau membangun rumah dengan nilai minimum tertentu, serta berkomitmen untuk menetap dalam jangka panjang. Salah satu syarat penting adalah komitmen tinggal selama 10 tahun.

Artinya, seseorang tidak bisa datang ke Albinen, menerima uang, kemudian meninggalkan desa beberapa bulan kemudian.

Program tersebut juga menunjukkan satu hal penting: insentif relokasi biasanya diberikan karena pemerintah daerah menginginkan penduduk permanen, bukan sekadar wisatawan atau penghuni sementara.

Irlandia: bukan uang pindah, tetapi bantuan renovasi

Irlandia menawarkan pendekatan berbeda melalui kebijakan Our Living Islands.

Pemerintah Irlandia berupaya menghidupkan kembali komunitas di pulau-pulau kecil yang menghadapi persoalan populasi dan keterbatasan regenerasi penduduk. Salah satu instrumennya adalah Vacant Property Refurbishment Grant atau bantuan renovasi properti kosong.

Untuk properti di pulau lepas pantai yang memenuhi persyaratan, bantuan renovasi dapat mencapai 84.000 euro untuk bangunan yang tergolong terbengkalai. Untuk properti kosong biasa, nilai maksimalnya dapat mencapai 60.000 euro.

Dengan demikian, uang tersebut bukan diberikan kepada warga asing hanya karena mereka mau tinggal di Irlandia.

Penerima harus memiliki properti yang memenuhi kriteria dan menggunakan dana tersebut untuk pekerjaan renovasi yang disetujui.

Kebijakan Our Living Islands sendiri merupakan program revitalisasi yang lebih luas, mencakup aspek perumahan, konektivitas, transportasi, pendidikan dan layanan lainnya untuk memperkuat kehidupan masyarakat di pulau-pulau terpencil.

Jepang mencari penduduk untuk daerah pedesaan

Jepang menghadapi persoalan demografi yang berbeda tetapi memiliki akar masalah serupa.

Negara tersebut mengalami penuaan penduduk dan konsentrasi masyarakat di kawasan metropolitan, khususnya Tokyo. Sementara itu, sejumlah daerah pedesaan kehilangan penduduk usia produktif.

Pemerintah Jepang kemudian menjalankan program dukungan relokasi ke daerah regional.

Dalam skema tertentu, seseorang dapat memperoleh bantuan hingga sekitar 600.000 yen untuk individu. Untuk keluarga, bantuan dasar dapat mencapai 1 juta yen, ditambah hingga 1 juta yen untuk setiap anak yang memenuhi persyaratan. Karena itu, keluarga dengan dua anak secara teoritis dapat menerima hingga sekitar 3 juta yen.

Namun, ada catatan penting.

Program tersebut terutama menyasar orang yang memenuhi kriteria tertentu, termasuk mereka yang berpindah dari kawasan metropolitan dan memenuhi persyaratan pekerjaan atau kegiatan ekonomi di daerah tujuan. Program juga dijalankan melalui pemerintah daerah, sehingga persyaratan dapat berbeda antarwilayah.

Karena itu, warga asing tidak otomatis mendapatkan uang hanya dengan membeli tiket pesawat ke Jepang.

Spanyol, mendorong keluarga dan pekerja jarak jauh

Spanyol juga memiliki sejumlah inisiatif di daerah pedesaan untuk mengatasi penyusutan populasi.

Beberapa pemerintah daerah memberikan bantuan kepada keluarga muda, pekerja jarak jauh atau pendatang yang bersedia tinggal di desa-desa dengan populasi kecil.

Skema tersebut dapat berupa bonus uang, bantuan sewa, dukungan usaha maupun fasilitas lainnya. Tujuannya bukan hanya menambah jumlah penduduk, tetapi mempertahankan sekolah, toko, layanan publik dan kegiatan ekonomi di wilayah pedesaan.

Persyaratan sangat bergantung pada pemerintah daerah yang menjalankan program. Karena itu, informasi mengenai “Spanyol membayar orang asing untuk pindah” tidak bisa diterapkan sebagai kebijakan nasional yang berlaku untuk seluruh wilayah negara tersebut.

Chile menawarkan pendanaan bagi pengusaha

Chile memiliki pendekatan yang berbeda.

Negara Amerika Selatan tersebut dikenal dengan program Start-Up Chile, yang memberikan pendanaan tanpa mengambil ekuitas untuk pengusaha dan perusahaan rintisan yang memenuhi kriteria.

Program tersebut pada dasarnya bukan pembayaran kepada siapa saja yang ingin pindah ke Chile. Sasaran utamanya adalah pengusaha yang memiliki ide bisnis dan potensi mengembangkan perusahaan.

Dengan menarik pengusaha dari berbagai negara, pemerintah berharap menciptakan perusahaan baru, lapangan pekerjaan, investasi serta aktivitas ekonomi.

Model seperti ini menunjukkan bahwa “insentif migrasi” tidak selalu berbentuk uang tunai untuk biaya hidup. Pemerintah juga dapat menggunakan pendanaan bisnis sebagai alat untuk menarik talenta asing.

Yunani dan pulau-pulau yang kehilangan penduduk

Yunani juga muncul dalam berbagai daftar lokasi yang menawarkan insentif kepada pendatang, khususnya di wilayah pulau yang menghadapi penurunan populasi.

Beberapa program berskala lokal menggabungkan bantuan tempat tinggal, lahan maupun dukungan finansial dengan kewajiban menetap.

Tujuannya sederhana: menjaga agar pulau-pulau kecil tetap memiliki komunitas permanen.

Namun, seperti Italia dan Spanyol, penting untuk membedakan antara program nasional dengan program yang dijalankan pemerintah lokal atau komunitas tertentu.

Kroasia dan upaya menghidupkan kembali kawasan kecil

Kroasia juga termasuk negara yang disebut dalam daftar negara yang menawarkan insentif relokasi.

Sejumlah wilayah kecil di Eropa menghadapi masalah yang sama: penduduk muda pindah ke kota besar atau negara lain untuk mencari pekerjaan, sementara desa dan kota kecil kehilangan basis ekonomi.

Bantuan perumahan, renovasi bangunan dan dukungan bagi usaha menjadi salah satu instrumen yang digunakan untuk menarik penduduk baru.

Mengapa pemerintah mau “membayar” pendatang?

Sekilas, memberikan uang kepada orang untuk pindah tampak seperti kebijakan yang mahal.

Namun, dari perspektif pemerintah daerah, biaya tersebut dapat dianggap sebagai investasi.

Penduduk baru berarti ada konsumen baru yang membeli kebutuhan sehari-hari. Mereka membayar pajak, menyewa atau membeli rumah, membuka usaha, menggunakan jasa lokal dan berpotensi menciptakan lapangan pekerjaan.

Jika pendatang membawa anak, keberadaan mereka juga dapat membantu mempertahankan sekolah dan fasilitas publik yang terancam ditutup akibat jumlah penduduk yang terus menyusut.

Persoalan demografi menjadi semakin penting karena banyak negara maju menghadapi kombinasi antara tingkat kelahiran rendah dan peningkatan usia harapan hidup.

Desa yang kehilangan penduduk bukan hanya kehilangan rumah yang dihuni. Dalam jangka panjang, desa tersebut dapat kehilangan tenaga kerja, pembeli, pelaku usaha, siswa sekolah hingga layanan publik.

Karena itu, uang yang dikeluarkan pemerintah untuk menarik penduduk baru dipandang sebagai salah satu cara untuk mempertahankan keberlangsungan komunitas.

Apakah warga Indonesia bisa ikut?

Jawabannya tergantung program.

Tidak semua program terbuka bagi warga negara asing. Bahkan ketika suatu program menerima pendatang asing, penerima tetap harus memiliki status tinggal yang sah dan memenuhi seluruh persyaratan imigrasi negara tujuan.

Inilah bagian yang sering hilang dalam pemberitaan mengenai “negara yang membayar orang untuk pindah”.

Mendapatkan insentif relokasi tidak sama dengan mendapatkan visa, izin tinggal atau kewarganegaraan.

Seseorang mungkin memenuhi syarat memperoleh bantuan renovasi rumah, tetapi tetap harus memiliki izin tinggal yang sah.

Begitu pula seorang pengusaha mungkin memperoleh pendanaan bisnis, tetapi proses imigrasi tetap harus dilakukan sesuai aturan negara tujuan.

Bukan jalan pintas mendapatkan kewarganegaraan

Program-program tersebut juga tidak otomatis memberikan kewarganegaraan.

Pada umumnya, insentif ditujukan untuk membuat seseorang tinggal lebih lama di wilayah tertentu. Status penduduk tetap maupun kewarganegaraan memiliki persyaratan hukum tersendiri.

Karena itu, orang yang tertarik mengikuti program tersebut perlu memisahkan tiga hal: hak tinggal, insentif relokasi dan kewarganegaraan.

Ketiganya merupakan hal berbeda.

Ada “harga” di balik uang yang ditawarkan

Daya tarik uang tunai memang besar. Tetapi calon pendatang perlu menghitung biaya keseluruhan.

Rumah seharga 1 euro di Italia, misalnya, bukan berarti seseorang bisa memiliki rumah layak huni hanya dengan mengeluarkan 1 euro. Ada biaya notaris, pajak, renovasi, desain, konstruksi dan berbagai kewajiban lainnya.

Begitu juga dengan bantuan renovasi di Irlandia. Dana tersebut ditujukan untuk pekerjaan yang memenuhi kriteria, bukan uang bebas yang dapat digunakan untuk kebutuhan apa saja.

Sementara itu, orang yang memperoleh insentif di Swiss harus mempertimbangkan tingginya biaya hidup dan kewajiban tinggal dalam jangka panjang.

Dengan kata lain, uang insentif bukan keuntungan bersih. Besarnya harus dibandingkan dengan biaya membeli rumah, renovasi, transportasi, kesehatan, pajak, pendidikan dan biaya hidup sehari-hari.

Fenomena yang kemungkinan terus berkembang

Fenomena pemerintah menawarkan insentif kepada penduduk baru menunjukkan perubahan cara sejumlah negara menghadapi masalah demografi.

Dahulu, pemerintah lebih banyak membangun kawasan industri atau memberikan insentif kepada perusahaan untuk membuka lapangan pekerjaan.

Kini, sebagian pemerintah mulai melihat penduduk itu sendiri sebagai aset ekonomi.

Orang yang bekerja dari jarak jauh, pengusaha digital, profesional dengan keahlian tertentu dan keluarga muda dapat membawa aktivitas ekonomi tanpa harus menunggu perusahaan besar membuka cabang.

Perubahan pola kerja setelah pandemi juga membuat kebijakan tersebut semakin relevan. Pekerja yang tidak harus datang ke kantor setiap hari memiliki lebih banyak pilihan tempat tinggal. Forbes menyebut perkembangan kerja jarak jauh dan ekonomi digital turut memperluas kelompok orang yang secara realistis dapat mempertimbangkan pindah negara.

Pada akhirnya, negara atau daerah yang menawarkan uang untuk penduduk baru sebenarnya tidak sedang “membagi-bagikan uang”.

Mereka sedang melakukan investasi demografi.

Uang diberikan karena pemerintah menginginkan sesuatu yang lebih besar sebagai imbalannya: rumah yang kembali dihuni, usaha yang kembali berjalan, sekolah yang tetap buka, desa yang tidak mati dan komunitas yang memiliki masa depan.

Bagi warga asing, program tersebut memang dapat menjadi peluang untuk memulai kehidupan baru.

Namun, sebelum tergiur dengan angka puluhan ribu euro atau jutaan yen, pertanyaan terpenting bukanlah “berapa uang yang akan saya dapat?”, melainkan “apa yang harus saya lakukan dan berapa biaya yang harus saya keluarkan untuk bisa benar-benar tinggal di sana?”

Sebab, dalam hampir semua program relokasi, uang yang ditawarkan datang bersama sebuah komitmen: tinggal, bekerja, berinvestasi dan ikut menghidupkan kembali tempat yang dipilih sebagai rumah baru.
Komentar

Tampilkan

  • Negara yang Menawarkan Uang Tunai bagi Warga Asing yang Mau Jadi Penduduk Baru
  • 0

Iklan