-->

Feature

Iklan

Benjamin Netanyahu Terancam Dicopot: 3 Skenario yang Bisa Mengakhiri Kekuasaan PM Israel

Minggu, 06 September 2026, 4:38 PM WIB Last Updated 2026-09-06T09:38:24Z


Tel Aviv (Pumpunan) - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali berada di bawah tekanan politik. Seruan agar dirinya dicopot dari jabatan muncul menjelang pemilihan umum Knesset pada 27 Oktober 2026, ketika masa depan politik pemimpin Partai Likud tersebut semakin menjadi sorotan.

Anggota parlemen oposisi Gilad Kariv bahkan menyebut pencopotan Netanyahu sebagai "kebutuhan eksistensial bagi masyarakat Israel". Kariv menilai Netanyahu gagal memberikan pertanggungjawaban yang memadai atas kegagalan keamanan Israel sebelum dan saat serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Tekanan tersebut datang ketika Netanyahu menghadapi persaingan pemilu yang ketat. Jajak pendapat terbaru menunjukkan blok pendukung Netanyahu dan blok lawannya sama-sama berada di sekitar 53 kursi, masih jauh dari 61 kursi yang dibutuhkan untuk menguasai mayoritas Knesset.

Lantas, seberapa besar peluang Benjamin Netanyahu kehilangan kursi perdana menteri?

Ada sedikitnya tiga skenario yang dapat mengakhiri kekuasaan Netanyahu.

1. Netanyahu kalah dalam pemilu Knesset 2026

Skenario pertama dan paling jelas adalah kekalahan politik dalam pemilu.

Israel akan menggelar pemilu Knesset pada 27 Oktober 2026 untuk memilih 120 anggota parlemen. Sistem politik Israel membuat sebuah partai atau blok harus mengamankan dukungan yang cukup untuk membentuk pemerintahan, dengan angka 61 kursi menjadi ambang mayoritas di Knesset.

Artinya, kemenangan Partai Likud tidak otomatis menjamin Netanyahu tetap menjadi perdana menteri.

Yang jauh lebih menentukan adalah kemampuan Netanyahu membangun koalisi setelah pemilu.

Jika Likud memperoleh kursi signifikan tetapi partai-partai sekutunya gagal mencapai jumlah yang diperlukan, Netanyahu dapat kehilangan kesempatan membentuk pemerintahan.

Sebaliknya, jika kelompok oposisi berhasil menggabungkan kekuatan dan membentuk koalisi mayoritas, Netanyahu berpotensi harus menyerahkan kekuasaan.

Inilah alasan pemilu 27 Oktober dipandang sebagai referendum politik terhadap kepemimpinan Netanyahu. Pemilu tersebut juga menjadi pemilu pertama Israel sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

2. Koalisi Netanyahu pecah sebelum atau setelah pemilu

Skenario kedua adalah pecahnya koalisi pendukung Netanyahu.

Politik Israel sangat bergantung pada koalisi karena banyak partai memperoleh kursi dalam jumlah relatif kecil. Kondisi itu membuat partai-partai kecil dapat menjadi penentu terbentuk atau runtuhnya pemerintahan.

Situasi tersebut menjadi semakin rumit menjelang pemilu 2026 karena sejumlah partai sayap kanan yang selama ini berada di orbit Netanyahu menghadapi kepentingan politik masing-masing.

Associated Press melaporkan bahwa persaingan antarpartai pro-Netanyahu berpotensi memecah suara kanan. Netanyahu bahkan mendorong partai-partai kecil sayap kanan untuk bersatu agar suara pendukung pemerintah tidak terbuang akibat gagal melewati ambang batas elektoral 3,25 persen.

Fragmentasi tersebut dapat menjadi persoalan serius.

Jika partai-partai pendukung Netanyahu gagal mencapai ambang batas, suara mereka tidak memperoleh representasi di Knesset. Akibatnya, blok yang sebelumnya tampak kuat dapat kehilangan sejumlah kursi penting.

Bagi Netanyahu, beberapa kursi saja dapat menjadi pembeda antara mampu membentuk pemerintahan atau harus berada di luar kekuasaan.

3. Tekanan akibat kegagalan 7 Oktober semakin besar

Skenario ketiga berkaitan dengan pertanggungjawaban atas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Serangan tersebut menjadi salah satu titik paling kontroversial dalam perjalanan politik Netanyahu. Oposisi dan sebagian masyarakat Israel mendesak pembentukan komisi penyelidikan negara untuk mengusut kegagalan politik, intelijen dan keamanan sebelum serta saat serangan tersebut.

Gilad Kariv kembali mengangkat isu tersebut dengan menuding Netanyahu menghindari tanggung jawab atas penyelidikan militer mengenai peristiwa 7 Oktober.

Bagi oposisi, persoalan tersebut bukan sekadar kegagalan operasional militer, tetapi juga menyangkut tanggung jawab politik pemimpin pemerintahan.

Tekanan publik yang semakin besar dapat memengaruhi perilaku partai-partai koalisi. Jika mereka menilai mempertahankan Netanyahu justru mengurangi peluang elektoral, dukungan terhadap perdana menteri dapat melemah.

Dengan kata lain, hasil penyelidikan dan persepsi masyarakat terhadap tanggung jawab Netanyahu berpotensi menjadi faktor yang menentukan masa depan politiknya.

Netanyahu belum tentu langsung dicopot

Meski tekanan terhadap Netanyahu meningkat, penting untuk memahami bahwa seruan oposisi tidak sama dengan keputusan pencopotan.

Pernyataan Kariv merupakan tekanan politik. Jalan untuk mengganti perdana menteri tetap bergantung pada dinamika parlemen, koalisi dan hasil pemilu.

Bahkan jajak pendapat terbaru memperlihatkan pertarungan masih sangat terbuka. Survei yang dirilis pada awal September menunjukkan blok pro-Netanyahu dan lawannya sama-sama diproyeksikan memperoleh 53 kursi, sehingga belum ada kubu yang mampu mencapai mayoritas 61 kursi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Netanyahu masih memiliki peluang mempertahankan kekuasaan.

Ia juga tengah berupaya mengonsolidasikan partai-partai kanan agar tidak terjadi fragmentasi suara. Financial Times melaporkan Netanyahu mendorong penyatuan suara sayap kanan menjelang pemilu karena partai-partai kecil yang gagal melewati ambang batas dapat membuat suara pendukung pemerintah terbuang.

Pemilu 27 Oktober menjadi titik krusial

Pada akhirnya, masa depan Benjamin Netanyahu kemungkinan besar akan ditentukan oleh kemampuan mempertahankan blok politiknya.

Jika Likud dan partai sekutu mampu mengamankan mayoritas 61 kursi, Netanyahu masih berpeluang kembali memimpin Israel.

Jika bloknya gagal mencapai mayoritas dan oposisi berhasil membentuk pemerintahan alternatif, era Netanyahu dapat berakhir melalui proses politik yang sah.

Sementara itu, jika terjadi perpecahan serius dalam koalisi atau tekanan publik akibat kegagalan 7 Oktober semakin kuat, posisi Netanyahu dapat semakin sulit dipertahankan.

Dengan demikian, tiga skenario yang perlu diperhatikan adalah kekalahan dalam pemilu, pecahnya koalisi pendukung, dan meningkatnya tekanan politik akibat pertanggungjawaban atas kegagalan 7 Oktober.

Ketiganya saling berkaitan.

Kekalahan partai-partai kecil pendukung Netanyahu dapat melemahkan koalisi. Koalisi yang melemah dapat membuat oposisi lebih mudah membentuk pemerintahan. Pada saat yang sama, persoalan 7 Oktober dapat menjadi faktor yang mendorong pemilih dan partai-partai politik mencari alternatif kepemimpinan.

Karena itu, pertanyaan apakah Benjamin Netanyahu akan dicopot tidak hanya bergantung pada popularitas pribadi sang perdana menteri.

Pertaruhan sebenarnya adalah apakah ia masih mampu mengubah dukungan politik menjadi 61 kursi di Knesset.

Jika tidak, pemilu 27 Oktober 2026 berpotensi menjadi titik balik besar dalam perjalanan politik Israel dan sekaligus membuka babak baru setelah era panjang Benjamin Netanyahu.
Komentar

Tampilkan

  • Benjamin Netanyahu Terancam Dicopot: 3 Skenario yang Bisa Mengakhiri Kekuasaan PM Israel
  • 0

Iklan